BNI Ditunjuk sebagai Penerima Pembayaran Biaya Penggunaan Frekuensi Radio

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) menunjuk PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sebagai bank penerima pembayaran pendapatan negara bukan pajak (PNBP).

Dengan penunjukan ini, BNI dapat dijadikan sebagai tempat untuk memenuhi kewajiban pembayaran biaya hak penggunaan (BHP) spektrum frekuensi radio dan lima biaya lainnya.

Kelima biaya lainnya yang juga dapat dibayarkan melalui BNI adalah biaya sertifikasi dan permohonan pengujian alat perangkat telekomunikasi, biaya izin radio amatir, dan biaya izin komunikasi radio antar-penduduk.

Selain itu, ada juga biaya ujian radio elektronika dan operator radio, biaya sertifikasi kecakapan operator radio konsesi, serta biaya penyelenggaraan/pengawasan ujian amatir radio.

Khusus untuk BHP spektrum frekuensi radio, pembayarannya dapat dilakukan secara host to host antara BNI dengan Kementerian Kominfo.

Direktur Jaringan dan Layanan BNI Adi Sulistyowati mengatakan, perjanjian ini merupakan kerja sama pertama yang terjalin antara BNI dan Kementerian Kominfo.

"Kerja sama ini akan sangat menguntungkan bagi Kementerian Kominfo dan para wajib bayar karena pembayaran biaya-biaya terkait Kementerian Kominfo tidak hanya dilakukan oleh satu bank seperti yang selama ini berlangsung," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (30/11/2015).

Source: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/11/30/201554026/BNI.Ditunjuk.Sebagai.Penerima.Pembayaran.Biaya.Penggunaan.Frekwensi.Radio

BNI Beli Tanah dan Bangunan Senilai Rp 1,5 triliun

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk belanja tanah dan bangunan senilai lebih dari Rp 1,5 triliun dari Dana Pensiun BNI. Transaksi yang merupakan afiliasi tersebut dilakukan, antara lain untuk mengakomodasi kebutuhan ruang kantor yang terus bertambah dan mengurangi biaya operasional sewa kantor.

Dalam keterbukaan informasi yang dipaparkan, Senin (30/11), BNI membeli gedung perkantoran BNI di Jalan Sudirman seharga Rp 1,45 triliun dan gedung kantor cabang BNI Fatmawati. Saat ini, kantor pusat dan cabang tersebut berstatus sewa.

Sewa kantor pusat BNI sendiri akan berakhir 31 Desember 2015 dan jatuh tempo sewa kantor cabang pada 21 November 2016.

Adapun, manfaat dari transaksi, antara lain perseroan memiliki gedung sendiri, mengintegrasikan seluruh unit kerja kantor pusat beserta fasilitas yang ada di dalamnya, mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi, serta menambah nilai bagi pemegang saham, kepemilikan dan pengembangan kantor pusat maupun cabang.

"Sedangkan, risiko yang mungkin dihadapi perseroan sehubungan dengan transaksi adalah terjadinya beban manajemen atas kepemilikan aset, seperti biaya pemeliharaan, asuransi dan pajak properti," imbuh Suhardi Petrus, Sekretaris Perusahaan BNI dikutip dalam keterbukaan informasi.

BNI dan Dana Pensiun BNI sendiri telah menyepakati persyaratan dan ketentuan jual beli, seperti beralihnya obyek jual beli, pembayaran penuh atas gedung BNI Sudirman dan kantor cabang BNI Fatmawati. "Jumlah nilai transaksi sebesar Rp 1,53 triliun dan pihak penjual telah menerima penuh uang tersebut," terang Suhardi.

Dana Pensiun BNI merupakan unit usaha yang menjalankan program pensiun manfaat pasti. Unit usaha ini didirikan dan dikendalikan oleh BNI, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Per 31 Desember 2014, jumlah ekuitas perseroan dan entitas anak mencapai Rp 61,02 triliun. Adapun transaksi afilisiasi ini berkisar 2,51% dari total ekuitas perseroan dan entitas anak.tersebar di seluruh Indonesia.

Source: http://m.kontan.co.id/news/bni-beli-tanah-dan-bangunan-senilai-rp-15-triliun

BNI Life Cetak Pertumbuhan Tenaga Pemasar 60%

PT BNI Life Insurance (BNI Life) terus mengembangkan jalur distribusi untuk memperluas jangkauan dan penetrasi pasar. Berbagai cara ditempuh termasuk menambah jumlah tenaga pemasar.

Direktur Utama PT BNI Life Insurance Budi Tampubolon mengatakan, komitmen jangka panjang BNI Life di Indonesia salah satunya ditunjukkan melalui pertumbuhan jumlah tenaga pemasar sebesar 60% sepanjang 2015.

"Kami berkomitmen untuk menjangkau semakin banyak masyarakat dan membuka akses kepada perlindungan asuransi melalui tenaga pemasar berlisensi yang terus bertumbuh," ujar Budi melalui keterangan pers, Senin (30/11).

Menurut Budi, tenaga pemasar inilah yang membantu setiap nasabah memiliki perlindungan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan serta kondisi keuangan mereka.

Untuk mewujudkan hal tersebut, BNI Life mendorong para nasabah untuk berkonsultasi secara berkala dengan tenaga pemasar BNI Life.

Selain itu, BNI Life juga berupaya untuk memudahkan akses masyarakat dalam mendapatkan informasi dan layanan melalui melalui 38 kantor pemasaran dan lebih dari 1400 bancassurance outlet yang tersebar di seluruh Indonesia.
 

Source : http://m.kontan.co.id/news/bni-life-cetak-pertumbuhan-tenaga-pemasar-60

BNI Buka Cabang Di Dubai Tahun Depan

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyatakan akan serius merambah jaringan ke Dubai, Uni Emirat Arab pada 2016 mendatang.
 
Achmad Baiquni, Direktur Utama terpilih BNI, mengatakan tahun ini perseroan akan fokus untuk membuka cabang di Korea Selatan. "Dubai rasanya tahun depan, buka cabang kan gak mudah," ujarnya kepada bisnis.com, Jumat (3/4/2015).
 
Menurut Baiquni, saat ini BNI memilihi bank koresponden di negeri petro dollar tersebut. Beberapa staf BNI ditempatkan di sana untuk melayani bisnis pengiriman uang atau remittance. Namun, Baiquni menyebut ke depan peluang bisnis trade finance juga menggiurkan.
 
Peluang BNI untuk membuka cabang di Dubai terbuka lebar setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meneken perjanjian kerjasama sama dengan Dubai Financial Services Authority pekan lalu. Perjanjian ini meliputi pertukaran informasi dan peningkatan kapsaitas pengawasan.
 
Saat ini, jaringan kantor luar negeri BNI mencakup Singapura, Hong Kong, New York, London, Tokyo, dan Osaka. BNI juga berencana membuka cabang di Korea Selatan pada Mei 2015 mendatang.
 
Hingga 2014, total aset kantor luar negeri BNI mencapai US$1,7 miliar dan 46% diantaranya dalam bentuk kredit. Adapun, 91% kredit BNI melalui cabang luar negeri disalurkan kepada perusahaan yang memiliki kaitan bisnis dengan Indonesia.

Nasabah kaya BNI minati Reksadana & Bancassurance

Kontan.co.id - JAKARTA. Bank Negara Indonesia (BNI) melihat pilihan off balance sheet product seperti reksadana dan bancassurance mulai menjadi pilihan nasabah kaya. Akibatnya, pertumbuhan permintaan produk-produk tersebut lebih tinggi ketimbang deposito dan tabungan.
 
"Deposito memang masih jadi pilihan utama investasi. Tapi pada kuartal pertama tahun ini, produk seperti reksadana dan bancassurance tumbuh lebih tinggi," ujar Purnomo B. Soetadi, EVP Customer Management dan Marketing BNI kepada KONTAN, Senin (6/4).
Namun porsi portofolio deposito masih sekitar 53% dari total portofolio nasabah kaya BNI. Di BNI, nasabah kaya mereka disebut dengan nama BNI Emerald.

Menurut Purnomo, capping bunga mempunyai peran penting atas pertumbuhan permintaan produk reksadana dan bancassurance. Apalagi, kata dia, di tengah situasi bisnis yang masih belum bergerak sesuai ekspektasi, maka banyak dana mengendap di perbankan dan mencari alternatif return yang lebih tinggi.

"Ke depan, polanya akan selalu mirip. Apabila situasi bunga deposito kurang menarik bagi pasar, maka akan direspon dengan mengalokasikan sebagian investasinya ke instrumen yang memberikan return lebih tinggi," ujar Purnomo.

Saat ini, jumlah nasabah BNI Emerald mencapai sekitar 20 ribu dengan total dana kelolaan mencapai Rp 55 triliun. Tahun ini, Purnomo bilang, BNI mengincar pertumbuhan jumlah dan dana kelolaan BNI Emerald mencapai 20%.

Modal BNI Cukup Untuk Ekspansi Tiga Tahun

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. memproyeksi perseroan tidak memerlukan penambahan modal hingga tiga tahun ke depan.

Achmar Baiquni, Direktur Utama terpilih BNI, mengatakan modal BNI mencukupi untuk kebutuhan ekspansi setiap tahun jika rasio pembayaran dividen diturunkan. Tahun ini, pemegang saham menetapkan rasio pembayaran dividen sebesar 25% dari perolehan laba bersih sebanyak Rp10,78 triliun. Rasio ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 30%.

" Kami saat ini lewat dividen payout ratio, tahun ini bagus , mudah-mudahan tahun depan juga," katanya seperti dikutip Bisnis.com, Senin (6/4/2015).

Baiquni menjelaskan, tahun ini ekspansi kredit ditargetkan tumbuh di kisaran 14%-16% dengan ditopang pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10%-12%.
Dia mengimbuhkan, dengan tingkat return of equity (RoE) sebesar 24%, pemupukan modal perseroan dari hasil keuntungan terbilang tinggi.

Terlebih, tahun ini BNI ini memproyeksi margin bunga bersih tetap dijaga di level 6,2%. Dengan kata lain, semakin besar keuntungan, pemupukan modal semakin meningkat.Hingga Desember 2014, rasio kecukupan modal BNI mencapai 16,2%.

Pembiayaan Infrastruktur, BNI Jajaki Kerjasama Dengan Bank Asal China

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk tengah menjajaki kerjasama dengan beberapa bank dari China untuk pembiayaan infrastruktur.
Achmad Baiquni, Direktur Utama terpilih BNI, mengatakan pembiayaan infrastruktur bernilai besar dan bank asal China tertarik untuk berpartisipasi. "Kami bisa joint financing, kami coba jajaki kerjasama apa yang bisa kami lakukan," ujarnya kepada bisnis.com, Jumat (3/4/2015).

Beberapa bank asal China yang tengah dijajaki antara lain Industrial Commercial Bank of China (ICBC) dan China Construction Bank (CCB). Baiquni mengatakan, penjajakan ini muncul usai lawatan Presiden Joko Widodo ke Negeri Tirai Bambu itu pada akhir Maret 2015.

Menurut Baiquni, hingga saat ini pipeline pendanaan proyek infrastruktur BNI mencapai Rp40 triliun. Dia mengimbuhkan, BNI siap berkolaborasi dengan ICBC atau CCB untuk pendanaan beberapa proyek besar meliputi pembangunan jalan tol, kereta api, pembangkit listrik, dan bandara.

Sebagaimana diketahui, ICBC merupakan salah satu bank terbesar di dunia dan di Indonesia memiliki anak usaha, yakni PT Bank ICBC Indonesia. Sementara itu, CCB juga berniat ekspansi ke Indonesia untuk menggarap pasar pembiayaan infrastruktur. Aset CCB di luar China per September 2014 mencapai Rp2.041 triliun atau 2,38 kali lipat dibandingkan dengan Bank Mandiri yang merupakan bank beraset terbesar di Indonesia.